Profil & Sejarah Desa Bora
Mengenal lebih dekat asal-usul, jejak pahlawan, dan pusat Kerajaan Sigi.
Visi & Misi Desa Bora
Visi
"Desa Bora yang mandiri dan kompetitif melalui pemberdayaan sumberdaya pembangunan berkelanjutan."
Misi
- 1 Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan pemberdayaan masyarakat (Human Resources dan Human Capital)
- 2 Meningkatkan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian dan perkebunan.
- 3 Melaksanakan tugas dan fungsi pemerintahan desa yang baik dan amanah (Good Governance), Menegakkan supremasi hukum, dan mengaktualisasikan nilai-nilai transparansi dan akuntabilitas publik.
- 4 Melaksanakan pengelolaan, penataan, dan pelestarian sumber daya alam yang berwawasan lingkungan.
- 5 Meningkatkan Ketahanan Lembaga Kemasyarakatan dalam pembangunan (Social Capital).
Bagan Struktur Organisasi
BPD
Achyar Syawal
Kepala Desa
Kusmayadi
Kasi Pemerintahan
Nurhidayat
Kasi Kesejahteraan
Moh. Fadhil
Kasi Pelayanan
Salman Faris
Sekretaris Desa
Lutfin
Kaur Keuangan
Khairul Nizam
Kaur Umum & TU
Hamlan
Kaur Perencanaan
Bambang Cahyadi
Kepala Dusun I
Abd. Majid
Kepala Dusun II
Muh. Karim
Kepala Dusun III
Sulhan
Sejarah Singkat
1 Asal Muasal Nama
Nama "Bora" diambil dari salah satu jenis tanaman yang banyak tumbuh di wilayah ini pada masa lampau. Sebelum sistem pemerintahan desa dibentuk pada tahun 1908, Bora merupakan pusat dari Kerajaan Sigi yang sangat berpengaruh.
2 Cerita Rakyat & Pembukaan Kampung
Menurut cerita masyarakat, wilayah ini pertama kali dilacak oleh pemburu bernama Were dan Guri dari Hilonga yang mengikuti jejak babi hutan bermata tombak perak dan emas. Jejak tersebut membawa mereka melewati daerah tumbuhan Bora, Sidondo, Kalukubula, hingga rawa-rawa kering tempat mereka bertemu warga Lando.
Pembukaan lahan pertanian dimulai oleh warga dari Vonggo (sekarang dikenal sebagai warga Bolontina) dan bangsawan dari Hibula (menetap di daerah Mapane karena adanya sumber air panas). Bersama warga Levu dan Nunu Mbailo, mereka menetapkan batas wilayah menggunakan pusaka (Guma) hingga batas sungai Vuno. Lahan khusus untuk Raja disiapkan dengan nama "Uluhaku".
3 Struktur Kerajaan Sigi
Berdasarkan catatan perjalanan Dr. N. Adriani dan Alb. C. Kruyt (1898), Sigi merupakan kerajaan besar yang berpusat di lembah Sigi dengan wilayah taklukan luas meliputi Sidondo, Sibowi, Sibalaya, Pakuli, Bangga, Kulawi, Lindu, Napu, Besoa, Bada, hingga Tawelia.
Jabatan Pembantu Magau (Raja / Madika)
4 Peristiwa Perang Bora (1905 - 1906)
1905 - Pemicu Perang
Perang dipicu ketika pasukan Belanda yang dipimpin Ince Dahlan memaksa dan menganiaya seorang warga bernama Suranaji untuk kerja bakti (Nujama) di bawah lumbung padi (Gampiri). Anak mantunya, Ranu Mpole, melawan dan menewaskan petinggi Belanda tersebut. Ranu Mpole gugur setelah dikeroyok pasukan Belanda.
1905-1906 - Perlawanan Pue Ngiro
Petinggi adat Pue Ngiro kemudian mengorganisasi pasukan pemuda Sigi menggunakan strategi kepung/intip (Pobungga/Patiku) dari pekuburan raja, dibantu oleh tokoh seperti Lasoso, Rituvaya, Kanahoki, dan Timpajori. Perang pecah sebanyak 7 kali. Peperangan baru berakhir setelah Ntondei (Madika Biromaru) membujuk paman mereka, Raja Sigi Daeng Masiri, untuk berdamai di Palu pada tahun 1906 demi menghindari pertumpahan darah lebih lanjut.